BUDAYA SAYA



Sejak kecil kita sering diajarkan oleh orang tua kita untuk mentaati dan memahami norma, etika, dan budaya leluhur kita. Sebagai warga negara indonesia, kita tahu bahwa indonesia ini memiliki kebudayaan yang sangat banyak dan beragam. Sebelum kita lebih lanjur membahas tentang budaya saya, ada lebih baiknya kita cari arti dari budaya itu sendiri.

"Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni." -Wikipedia.org

Menurut wikipedia budaya adalah suatu cara hidup yang sesuai dari mana seseorang itu berasal dan melekat pada dirinya. kita tidak pungkiri bahwa mungkin, tanpa kebudayaan di dunia ini mungkin akan banyak terjadi perpecahan dan tidak tertatanya kemanusian. karena tanpa disadari kebudayaan inilah yang mengatur seluruh aspek kehidupan kita sehari-hari. mulai dari cara kita berbicara, makan, berpendapat, beragama, berpolitik, dan cara kita berpandangan terhadap hidup. Wajib bagi kita juga untuk mengenal kebudayaan orang lain, hal ini penting karena kita sebagai warga negara indonesia, dimana di negara ini terdiri dari banyak suku dan ras. Maka sangat penting bagi kita untuk memahami dan saling toleransi atas satu kebudayaan dengan yang lain, agar tidak terjadi gesekan dalam berkehidupan sosial dan berwarganegara.


Saya dan Budaya Saya



Saya Anggiet Bracmatya manusia berjenis kelamin laki-laki, tepat sebulan yang lalu adalah hari jadi saya yang ke-19. 21 Februari 1998 tepat disaat negara ini mengalami krisis ekonomi yang paling parah dalam sejarah, dan banyak orang lain sedang memiliki masalah financial, hingga yang namanya kebutuhan pokok sangat langka saat itu, justru ibu saya malah lebih mementingkan untuk "Mengeluarkan" saya dari dalam perutnya, karena mungkin dirinya sudah menganggap diri saya sebagai beban dan segera ingin mengeluarkannya. Sedikit cerita tentang latar belakang ibu saya, Ibu saya bernama Sumiati wanita kelahiran Koja, Jakarta Utara tahun 17 Maret 1968, ya tahun 1968 yang tertulis di ktp-nya. konon katanya, dirinya memalsukan tahun kelahiran lebih tua setahun, agar bisa masuk masa sekolah lebih awal.


Ibu saya merupakan keturunan betawi asli putri kedua dari 4 bersaudara, yang dimana saya sampai saat menulis cerita ini baru tahu bahwa ibu saya memiliki 4 saudara kandung. Ibu saya adalah anak pengusaha tape terbesar se-kawasan Tj.priok hingga pelabuhan. Ya walaupun hanya punya 10 gerobak tape dan halaman rumah yang dijadikan pabrik tape kecil-kecilan (Ya anggep aja Besar lah). disana didaerah sungai bambu ibu saya menghabiskan masa kecilnya yang suram, sangat menyenangkan dengan bermain mainan tradisional dan kebudayaan tradisional betawi.


Berikutnya adalah ayah saya, Djunaryo Pria kelahiran Cirebon. Ayah saya tidak mempunyai tanggal dan tahun lahir yang pasti,dia sendiri pun lupa kapan dirinya lahir, pada ktp dan kartu keluarga pun memiliki tanggal lahir yang berbeda, ketika saya tanya kepada nenek saya, kapan ayah saya lahir. Beliau hanya menjawab ayah saya lahir ketika masjid besar istiqlal sedang dalam tahap pembangunan. Bingung?, sama saya juga. ayah saya merupakan keturunan jawa tengah dari kota tegal.


Kembali ke cerita mengenai kebudayaan, saya hidup dan besar di kota bekasi. dikota dimana kebudayaan betawi yang terus tergerus oleh kebudayaan lainnya dan terus dilupakan. Saya sendiri pun mengidentifikasi diri saya sebagai orang betawi, hal ini karena kebudayaan betawi yang dibawa oleh ibu saya ikut terbawa oleh saya. Bukan berarti saya tidak suka dengan kebudayaan jawa yang dibawa oleh saya, namun selama saya hidup di dalam keluarga ini, ayah saya sangat jarang memperkenalkan kebudayaan nya terhadap saya.. Namun saya cukup mengeerti ketika ayah saya menyuruh saya dalam berbahasa jawa, misalkan dia meminta saya untuk membelikan sesuatu, saya mengerti dirinya ketika beliau menyuruh saya dalam berbahasa jawa. meskipun saya tidak bisa berbahasa jawa.


Kembali kedalam kebudayaan betawi, ibu saya menularkan cara berbicara yang kasar dan nyablak kepada saya, dalam bidang kuliner ibu saya juga sering memperkenalkan nya, seperti soto betawi, kerak telor, sayur asem, dan tape uli. Dalam berbicara sehari-hari pun saya juga jadi terbiasa dengan aksen betawi. Bahkan pada saat berbicara dengan ibu saya, saya menggunakan bahasa seperti lo, gue dengan nada yang mungkin orang lain menganggap itu tidak sopan pada saat berbicara kepada orang tua. ya mau gimana lagi? seperti itulah kebudayaan saya, dan ibu saya pun sepertinya tidak mempermasalahkannya ketika berbicara kepada saya seperti itu.


Dalam bidang kesenian, ibu saya tidak pernah mengenalkan saya terhadap kesenian betawi. namun pada umumnya kita tahu bahwa ada banyak kesenian betawi contoh ada tanjidor sebagai alat musik yang terkenal, ada ondel-ondel yang biasa kita lihat dalam suatu perayaan, dan kesenian lenong.


Mungkin inilah yang saya bisa sedikit ceritakan dari kebudayaan saya, dan ini mungkin nasib dari putra-putri Indonesia yang merupakan hasil dari perkawinan orang tua yang berbeda adatnya. mereka cenderung membesarkan anaknya menjadi sekular dalam hal kebudayaan, dan kurang mengenalkan kebudayaan asli mereka kepada anak-anaknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Softskill 3 - Tutorial Pembuatan Animasi

Pengantar Teknologi Sistem Cerdas